“Tari Sang Hyang” Seni Pertunjukkan Kuno Nan Magis

  Tari Sanghyang adalah tari sakral, merupakan tari kerauhan karena kemasukan roh, baik roh dedari maupun roh binatang yang memiliki kekuatan gaib. Tari ini merupakan warisan budaya pra-Hindu yang bertujuan menolak bala. Tari sanghyang ini merupakan tarian komunikasi spritual dari warga masyarakat dengan alam gaib dengan menyanyikan tembang-temban pemujaan dengan iringan tetabuhan.


Pementasan Tari Sanghyang terkait dengan musim "grubug" atau musim penyakit cacar dan sampar. Menurut lontar tantu pagelaran, saat grubug para butakala berkeliaran mencari mangsa. Untuk itu masyarakat menyajikan banten caru (sesaji) dengan tunggul Gana Kumara dan Tari Sanghyang.

 

Konon, para butakala sangatlah tertarik untuk menyaksikan Dewa Gana Kumara yang merupakan sang penghalau kejahatan dan musuh segala bencana. Dengan begitu maka para butakala tidak akan berani mengganggu ketentraman hidup manusia yang hidup di bumi ini (Disbud, 1999/2000:15).

 Didalam tarian ini selalu ada tiga unsur penting yaitu; api, gending sanghyang dan penari. Dan tari sanghyang yang umum dipentaskan di Bali terdiri dari; Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Bojog, Sanghyang Jaran, Sanghyang Sampat dan Sanghyang Celeng.

Seperti hal nya Sanghyang Dedari Tarian Sanghyang Dedari, dilakukan sepasang penari cilik yang sebelumnya diupacarai dan dinyanyikan gending sanghyang dedari sampai pingsan suatu pertanda masukya roh dedari, di tempat menari kedua penari tersebut dalam keadaan tidak sadar menari-nari di atas pundak pria mengelilingi tempat pentas. Tujuan dari pementasan tari sanghyang dedari ini adalah memohon keselamatan dari bencana alam atau wabah penyakit.

Sumber:  https://www.denpasarkota.go.id/seni/baca/8,https://www.kulo.my.id/2022/01/tari-sanghyang-bali.html

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kakawin Arjuna Wiwaha Wirama Manda Malon

Drama Tari Gambuh, Kesenian Bali Kuno nan Klasik

Wayang Wong Tejakula, Seni Klasik di Punggung Bali.