Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Barong Brutuk, Tradisi Sakral Penghilang Wabah

Gambar
  Masyarakat Desa Trunyan melaksanakan upacara Ngusaba Gede Ratu Brutuk berpusat di Pura Pancering Jagat. para pemuda menarikan Barong Brutuk atau disebut sebagai Ratu Brutuk. Upacara Dewa Yadnya ini dilakukan setiap tahun. Tapi, Barong Brutuk ditarikan setiap dua tahun sekali jika tak ada halangan. Sebelum tahun ini, Barong Brutuk telah lama vakum selama kurang lebih 16 tahun.“Dulu, ada bencana alam sekitar. Pohon beringin jatuh menimpa meru di jeroan pura ini, sehingga ambruk semua. Arca di dalamnya utuh, termasuk topengnya Ratu Brutuk,” jelas Jero Mangku Kaler, salah satu panitia upacara Ngusaba Gede Ratu Brutuk. Barong Brutuk ditarikan oleh 19 penari. Penarinya adalah anggota perkumpulan pemuda atau disebut truna. Mereka adalah remaja laki-laki yang belum menikah. Sebelum menarikan Barong Brutuk, penarinya pantang melakukan tindakan seperti minum minuman beralkohol, main cewek dan mamotoh atau berjudi sabung ayam.Para penari akan mengenakan topeng dan pakaian.  Topen...

Wayang Wong Tejakula, Seni Klasik di Punggung Bali.

Gambar
Sebagai kesenian tradisional, Wayang Wong memiliki banyak hal sakral di dalamnya. Kesenian ini bertahan melalui warisan turun temurun. Sekalipun orang itu tak bisa menarikan Wayang Wong sebelumnya, namun jika sudah waktunya ia menari maka ia akan bisa menari. Bahkan tanpa proses belajar sekalipun.   Jika ditelusuri dari sejarahnya, kesenian Wayang Wong ini diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-17. Konon, saat itu orang kepercayaan Ida Bhatara yang ber- stana  di Pura Maksan Tejakula kerasukan, dan tanpa sadar terucap permintaan untuk melakukan kesenian Wayang Wong untuk dipentaskan di Pura Maksana serta pura-pura lainnya yang ada di Desa Adat Tejakula.      Pasca muncul petuah itu, para tokoh seni di Desa Adat Tejakula berkumpul dan sepakat membuat sebuah kesenian Wayang Wong. Di dalam kumpulan tokoh seni itu ada I Gusti Ngurah Jelantik – seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-16, serta I Dewa Batan –seniman yang datang ke Tejakula pada abad k...

Drama Tari Gambuh, Kesenian Bali Kuno nan Klasik

Gambar
G ambuh adalah tarian dramatari yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali. Gambuh adalah satu istilah yang digunakan untuk seni tari yang berbentuk drama tari, tembang dan wayang. Kata “Gambuh” bisa ditemukan dalam bahasa Melayu, Jawa dan Sunda. Dalam bahasa Melayu istilah ini dihubungkan dengan perasaan “Terima Kasih”, dalam bahasa Sunda dihubungkan dengan hiasan kepala topeng yang juga dinamakan tekes. Sementara itu, dalam bahasa Jawa istilah ini merujuk pada nama pupuh dengan pada lingsa u, 10u, 12i, 8u, 80. Pada lingsa adalah patokan dalam satu bait lagu atau pupuh gending Bali (dikutip Bandem dkk 1975: 2-3) Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total teater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Diiri...