Wayang Wong Tejakula, Seni Klasik di Punggung Bali.


Sebagai kesenian tradisional, Wayang Wong memiliki banyak hal sakral di dalamnya. Kesenian ini bertahan melalui warisan turun temurun. Sekalipun orang itu tak bisa menarikan Wayang Wong sebelumnya, namun jika sudah waktunya ia menari maka ia akan bisa menari. Bahkan tanpa proses belajar sekalipun.  Jika ditelusuri dari sejarahnya, kesenian Wayang Wong ini diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-17. Konon, saat itu orang kepercayaan Ida Bhatara yang ber-stana di Pura Maksan Tejakula kerasukan, dan tanpa sadar terucap permintaan untuk melakukan kesenian Wayang Wong untuk dipentaskan di Pura Maksana serta pura-pura lainnya yang ada di Desa Adat Tejakula.


     Pasca muncul petuah itu, para tokoh seni di Desa Adat Tejakula berkumpul dan sepakat membuat sebuah kesenian Wayang Wong. Di dalam kumpulan tokoh seni itu ada I Gusti Ngurah Jelantik – seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-16, serta I Dewa Batan –seniman yang datang ke Tejakula pada abad ke-15. Kedua seniman ini diperkirakan memiliki peran besar dalam kemunculan seni Wayang Wong di Tejakula. Kedua seniman ini lalu membuat topeng-topeng berbahan dasar kayu yang menyerupai tokoh-tokoh dalam epos Ramayana. Total ada 175 buah topeng yang dibuat pada masa tersebut.

   Topeng–topeng yang dibuat terbagi dalam beberapa kelompok. Seperti kelompok Sugriwa, Rama, Laksamana, Wibisana, Punakawan, Rahwana, Kumbakarna, hingga kelompok raksasa. Saat ini seluruh topeng yang diperkirakan berusia 3,5 abad tersebut masih dijaga kesakralannya dan di-stana-kan di Pura Maksan Tejakula. Topeng-topeng Wayang Wong hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu saja oleh anggota Sekaa Wayang Wong Tejakula. Sekaa yang beranggotakan 300 orang tersebut, menggelar pementasan Wayang Wong ketika diselenggarakan piodalan di pura-pura yang ada di Desa Adat Tejakula.


      Awalnya, Kesenian sakral ini tak bisa dipentaskan sembarangan. Misalnya hanya bisa dipentaskan saat piodalan ageng di Pura Kahyangan Tiga, ngenteg linggih, serta piodalan di Pura Danka. Sebelum dimainkan, topeng-topeng juga harus melalui proses upacara bakti pamungkah yang dilangsungkan di Pura Maksan. Kesenian Wayang Wong juga wajib dimainkan bersambung, tidak bisa dimainkan terpenggal atau dimulai pada bagian-bagian tertentu. Misalnya piodalan di Pura Desa Tejakula memainkan bagian pertama epos Ramayana, pada pementasan selanjutnya, harus memainkan bagian kedua. Begitu seterusnya. Jika sudah tamat, cerita dimulai lagi dari bagian pertama.

https://dinsos.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/yuk-mengenal-kebudayaan-wayang-wong-di-desa-tejakula-bali-39

https://tejakula.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/kelahiran-wayang-wong-tejakula-berawal-dari-peristiwa-kerauhan-83

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kakawin Arjuna Wiwaha Wirama Manda Malon

Drama Tari Gambuh, Kesenian Bali Kuno nan Klasik