Kurikulum Baru, Pelajar dan Karakter Ke-Indonesiaan
Kurikulum Baru, Pelajar dan
Karakter Ke-Indonesiaan
Oleh
I
Gusti Bagus Wirayudha Hary Prabawa (SMP Cipta Dharma)
Pademi Covid-19 telah banyak
membawa perubahan pada berbagai bidang kehidupan di Indonesia. Salah satunya
ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Hampir 2 tahun lebih, sistem
pembelajaran berubah total dari tatap muka (offline/ luring) menjadi seratus
persen daring (online). Tidak hanya itu, dampak paling penting yang ditimbulkan
oleh pandemi Covid-19 ini ialah lahirnya Kurikulum Paradigma Baru 2022.
Rencananya
kurikulum tersebut akan diterapkan di sekolah-sekolah secara bertahap mulai
tahun ajaran baru 2022. Apa istimewanya kurikulum ini? Dari beberapa sumber
menyebutkan bahwa kurikulum ini hendak lebih menguatkan pada ouput profil pelajar pancasila. Wah,
seperti apa, ya, profil pelajar pancasila yang dimaksud?
Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (yang dikutip
oleh detik.com/edu/sekolah/d-5635708/6-profil-pelajar-pancasila) menjabarkan
bahwa profil pelajar pancasila memiliki
enam ciri utama yaitu (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak
mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong royong, (4) mandiri, (5)
bernalar kritis, dan (5) kreatif.
Ada yang agak ganjil dari istilah “profil pelajar
pancasila”. Istilah ini seolah-olah meragukan pembelajaran yang dilakukan di
sekolah. Mungkinkah selama ini pendidikan di sekolah tidak menananamkan
nilai-nilai pancasila pada pelajar? Ah, tentu pertanyaan ini agak keras, ya.
Akan tetapi, menarik untuk dijawab dengan jujur.
Sebagai dasar negara, semua kegiatan kehidupan mesti
sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Terlebih lagi, dunia pendidikan di
Indonesia. Pendidikan di sekolah-sekolah harus sesuai dengan nilai-nilai
pancasila. Jika melenceng, sekolah beserta warganya berhak ditindak oleh
negara. Kalau memang sudah sesuai, mengapa sekarang muncul istilah profil
pelajar pancasila? Adakah yang keliru dari pendidikan di sekolah selama ini?
Pembelajaran di sekolah pasti berusaha untuk
menciptakan siswa berkarakter baik. Namun, harus dingat bahwa mustahil rasanya
dapat menciptakan siswa berkarakter baik seratus persen. Pasti ada saja siswa
yang memiliki karakter kurang baik. Karena itulah, kemendikbud menyebut dengan
istilah “menguatkan” profil pelajar pancasila.
Pengertian menguatkan artinya agar semua pelajar
Indonesia memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
Nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup bagi seluruh rakyat Indonesia.
Apa yang dilakukan oleh kemendikbud wajar sekali.
Hal ini mengingat Indonesia sebagai warga internasional pasti akan bersinggungan
dengan pengaruh asing. Jangan sampai pelajar kita lebih berkarakter
internasional tetapi tidak memiliki karakter ke-Indonesiaan. Dari dulu,
Indonesia dikenal memiliki budaya luhur yang dikenal dunia.
Namun, belakangan pelajar kurang percaya diri dengan
budaya yang dimiliki oleh leluhurnya. Mereka bangga menjadi orang asing.
Contohnya, remaja lebih bangga menggunakan bahasa Inggris dibandingkan dengan
bahasa Indonesia. Contoh lainnya, mereka lebih bangga menggunakan branding-branding asing dibandingkan branding Indonesia.
Ditambah lagi, negara mensinyalir ada
kelompok-kelompok radikalisme yang berkembang di Indonesia. Kelompok-kelompok ini menebar paham-paham intoleransi. Mereka menghasut,
mengadu domba, dan memecah belah persatuan bangsa. Semua kenyataan tersebut
masih kita jumpai hingga hari ini. Ya, wajar saja pemerintah mengingatkan
pelajar kepada karakter yang sesungguhnya yaitu profil pelajar pancasila.
Sesungguhnya, ide pemerintah ini bukan hal yang
baru. Empat puluh tahun yang lalu (Maret 1979),
zaman pemerintahan Orde Baru ada proyek yang bernama Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila (P4). Rezim Orde Baru mewajibkan setiap pegawai
negeri dan anggota masyarakat mengikuti penataran P4, termasuk pelajar (https://tirto.id/sejarah-p4-di-masa-orde-baru-yang-kini-akan-dihidupkan-lagi).
Secara khusus P4 juga diterapkan dalam
pembelajaran yaitu mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Waktu itu
pemerintah menggunakan Kurikulum 1975. Pelajaran PMP merupakan pelajaran yang
wajib diajarkan mulai dari SD sampai SMA.
Rupanya era Jokowi, penguatan pendidikan
pancasila dipandang penting dibangkitkan lagi. Ide ini sebetulnya sudah
direncanakan sejak Januari 2017 melalui Bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (BPIP). Tujuannya ialah untuk menangkal
paham radikalisme. Hal ini berarti bahwa negara mencium ada bibit radikalisme
di Indonesia. Cara menangkalnya ialah dengan menguatkan profil pelajar
pancasila yang dititipkan pada Kurikulum Paradigma Baru 2022.
Akankah Kurikulum Paradigma Baru 2022 dapat
menguatkan nilai-nilai pancasila pada pelajar? Sebelum menjawab pertanyaan ini,
mari kita singgung sekilas tentang sistem pembelajaran guru di sekolah. Selama
ini, guru-guru masih melakukan pembelajaran yang menekankan pada penghabisan
materi.
Para guru lebih memfokuskan kepada kemampuan
menghapal dan memahami. Kemampuan ini diuji lewat penilaian harian, penilaian
akhir semester atau bentuk ujian yang berupa soal-soal lisan atau tertulis.
Jarang sekali ada pembelajaran yang mengajak siswa menerapkan suatu teori atau
praktik.
Bagaimana jadinya jika pendidikan karakter
hanya diajarkan secara teori saja? Misalnya, pelajaran agama dan budi pekerti
diajarkan secara teori tanpa pernah dipraktikkan. Bisa dipastikan hasilnya
kurang maksimal.
Perilaku atau karakter tidak cukup diajarkan
hanya dengan teori saja. Kemudian, di tes kemampuan hanya berdasarkan teori,
maka terbentuk karakter yang penuh teori. Mereka tahu tentang kebaikan, tetapi
tidak bisa mempraktikkannya. Contohnya, ketika melihat ada orang tua menyebrang
jalan di tengah keramaain lalu lintas, maka sepatutnya kita bantu menyebrangkan
orang tua itu.
Apakah kenyataannya begitu? Apakah benar ketika
kita melihat orang tua sendirian menyeberang jalan, kita bantu dia
menyebrangkan jalan. Tidak! Banyak dari kita hanya merasa iba, memilih
pura-pura tidak lihat, dan lebih parahnya lagi memilih kabur. Pilihan ketiga
paling sering kita jumpai.
Kita tahu tentang teori kebenaran, tetapi
praktiknya dalam kehidupan sehari-hari tidak kita laksanakan. Ini karena
pendidikan kita hanya menekankan pada menghabiskan materi yang berkaitan dengan
teori kebaikan—bukan praktik kebaikan.
Jangan-jangan pembelajaran nilai-nilai
pancasila akan menemui hal yang sama nantinya. Contoh nyatanya ialah
pembelajaran PMP atau penataran P4 zaman dulu. Dari beberapa referensi
menyebutkan bahwa model pembelajarannya juga penuh dengan teori-teori. Teori
yang berkaitan dengan nilai-nilai pancasila. Namun, praktikknya kurang
maksimal. Buktinya, budaya korupsi tetap saja merajarela pada zaman dulu hingga
sekarang.
Bagaimana dengan Kurikulum Paradigma Baru 2022?
Akankah terwujud profil pelajar pancasila secara maksimal? Jika kita cermati
penanaman nilai pancasila pada kurikulum baru, tampaknya tidak terpisah seperti
zaman Orde Baru. Penanaman karakter pancasilais pada pelajar menjadi tanggung
jawab semua guru.
Kalau dulu, hanya dibebankan khusus kepada guru
PMP atau penatar P4. Sedangkan, guru mata pelajaran yang lainnya seolah-olah
tidak punya tanggung jawab menanamkan karakter pancasila.
Namun, sekarang modelnya berbeda. Semua guru
mata pelajaran berhak menanamkan karakter pancasila kepada pelajar (profil
pelajar pancasila) melalui mata pelajaran yang diajarkannya. Artinya,
pemerintah memandang bahwa semua tenaga pendidik memiliki peran dan tanggung
jawab yang sama dalam mendidik pelajar berkarakter pancasila.
Cara ini lebih masuk akal. Para guru di sekolah
dianggap sebagai tim. Tim yang saling bahu membahu dalam mencetak profil
pelajar pancasila. Tampaknya, peluang untuk mencetak profil pelajar pancasila
menjadi semakin kuat—asalkan pembelajaran bisa berlangsung normal (tatap muka).
Sayangnya, dunia pendidikan kita masih
dibayang-bayangi oleh virus corona dengan berbagai variasi baru. Situasi ini
tentu menjadi kendala untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Karena
pembelajaran tatap muka sudah diakui oleh berbagai research lebih maksimal dalam membentuk karakter siswa. Guru dan
siswa dapat melakukan hubungan sosial yang lebih optimal. Kontrol, pembinaan,
dan pendidikan dirasakan menjadi lebih maksimal.
Meskipun sudah ada kebijakan pemerintah untuk
menggelar pembelajaran tatap muka terbatas, tetap dirasakan kurang maksimal.
Sebab, waktu pembelajaran sangat terbatas. Selain itu, guru tidak leluasa
memaksimalkan pembelajaran karena harus tunduk dengan prokes dengan ketat.
Seandainya, kasus covid varian baru meningkat
dan ada kebijakan pembelajaran daring lagi, dipastikan pencapaian untuk
membentuk profil pelajar pancasila akan terhambat. Guru akan mengalami kendala
dalam membentuk karakter pancasilais untuk menguatkan karakter ke-Indonesiaan
kepada pelajar.
Karena itu, mari berdoa semoga kasus covid di
Indonesia tidak melonjak lagi sehingga pembelajaran tatap muka pada tahun
pelajaran 2022 tetap dilakukan secara tatap muka. Setidaknya, dapat dilakukan
secara terbatas. Atau kalau bisa, dapat dilakukan secara normal. Semua siswa
sekolah tanpa sesi atau gelombang dan waktu belajar dapat diperpanjang. Jika
demikian halnya, peluang untuk mencetak profil pelajar pancasila terbuka
lebar—sehingga terwujud pelajar yang “Indonesia banget”.
Referensi:
https://tirto.id/sejarah-p4-di-masa-orde-baru-yang-kini-akan-dihidupkan-lagi-eCDt
Mantap yudha
BalasHapusKERENNNNN
BalasHapuskecee dh
BalasHapusKeren🗿🙏
BalasHapusMantap gus👍
BalasHapusKerennn👏
BalasHapusMantap Gus yudha 👌
BalasHapusArtikel blog ini sangat bermanfaat karena menjelaskan tentang kurikulum baru, Pelajar, dan karaktek ke-Indonesian. 👍
BalasHapus👍🏻🙏
BalasHapusBermanfaat banget 🤩👍
BalasHapus