Era Digitalisasi, Generasi Z Punya Peluang yang Sama

 

Era Digitalisasi, Generasi Z Punya Peluang yang Sama

Oleh

I Gusti Bagus Wirayudha Hary Prabawa (SMP Cipta Dharma)

 

Beberapa tahun terakhir ini, profesi menjadi seorang youtuber memang sedang dilirik dan diminati oleh masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Bagaimana tidak? Cukup bermodalkan handphone saja, semua orang (termasuk generasi Z) memiliki peluang yang sama untuk menjadi seorang youtuber. Lewat kreativitas dan keunikan konten, generasi Z bisa menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta per bulan. Wow, amazing!

Keberadaan seorang youtuber telah mengubah mindset generasi Z tentang eksistensi diri, masa depan dan terutama pekerjaan (profesi). Keberadaan youtuber hendak menyingkirkan pola pikir generasi tua (old). Generasi yang beranggapan bahwa bekerja (pekerjaan) identik dengan berpakaian rapi ke kantor. Pergi pagi hari dan pulang ketika menjelang sore. Atau bekerja menjadi petani, peternak, kuli bangunan dan lain sebagainya.

Tidak. Era digitalisasi dan society 5.0 sekarang ini telah meruntuhkan beberapa profesi yang dianggap mapan sebelumnya. Era digitalisasi melahirkan kenyataan pekerjaan yang jauh dari prakiraan orang. Barangkali pekerjaan itu dianggap tidak masuk akal  yang membutuhkan kematangan usia, pendidikan dan skil yang mapan serta terikat waktu.

Era digitalisasi seolah-olah hendak mematahkan cara pandang tersebut. Salah satu contoh nyatanya ialah pekerjaan seorang youtuber. Bekerja menjadi seorang youtuber tidak harus menunggu kematangan pendidikan (pendidikan tinggi), batasan usia atau bermodal besar. Semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja dan orang tua pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi seorang youtuber.

Selain itu, bekerja menjadi seorang youtuber juga tidak harus terikat dengan waktu dan tempat. Kapan dan dimana saja, orang bisa bekerja. Bahkan, sambil tamasya atau jalan-jalan pun, orang bisa bekerja. Hal ini berbeda dengan pekerjaan konvensional (dulu). Orang harus datang ke suatu tempat, berpakaian kerja, terikat aturan kerja dan waktu kerja.

Dunia sudah berubah. Sekarang  bekerja seolah-olah adalah sebuah dunia yang abal-abal. Tidak kelihatan dengan jelas. Apakah mereka sedang bekerja atau tidak bekerja. Kita sangat sulit membedakannya. Tanpa disadari, ternyata mereka memiliki kanal youtube dan mengupload konten kreatif dengan jumlah viewers mencapai ratusan hingga jutaan.

Kemudian, jangan tanya pendapatannya. Kadang-kadang kita dibuat geleng-geleng kepala. Karena itulah, miliader tidak hanya dikuasai oleh kalangan orang tua. Bahkan, beberapa kalangan remaja sangat berpeluang menjadi miliader. Sudah siapkan Anda (generasi Z) menyongsong abad digital yang penuh dengan peluang tersebut?

Generasi Z sangat potensial merebut peluang tersebut. Pasalnya, generasi Z lebih piawai dalam menguasai IT (teknologi). Mereka sangat cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kemampuan beradaptasi dengan IT merupakan modal agar dapat eksis dan bersaing sekarang. Tanpa modal ini, maka kita siap-siap dilindas oleh perkembangan zaman. Artinya, kita akan kehilangan peluang dan tidak punya daya saing. Siapa yang mengharapkan situasi ini?

Pasti tidak ada, bukan? Semua generasi Z pasti ingin bermental kompetitif agar dapat memenangkan peluang menjadi seorang youtuber. Apakah cukup hanya bermodalkan kemampuan IT? Kalau kita cermati, modal IT harus digabungkan dengan kemampuan menciptakan kualitas konten yang unik dan menarik. Kualitas konten sangat berpengaruh dalam menentukan kesuksesan seorang youtuber.

Ada beragam konten yang dapat dibuat oleh para youtuber. Mulai dari konten pendidikan, hiburan, kesehatan, hobi, musik dan lain sebagainya. Bahkan, konten game pun dapat menciptakan peluang yang sama kepada para youtuber.

Mungkin banyak orang menganggap konten game ini tidak berguna. Masyarakat kerap memandang remeh konten game. Celakanya lagi, dianggap merusak mental generasi Z. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Rusak atau tidaknya mental generasi Z sangat tergantung pada orang itu  sendiri dalam memanfaatkan efek positif dari konten. 

Konten game dapat memberikan peluang pendapatan jika kita dapat memberdayakan dengan benar. Bukan malah membuat orang kecanduan dan menghabiskan-habiskan kuota, tetapi dapat mendatangkan uang. Hal ini dibuktikan oleh para youtuber game. Salah satunya ialah Muhammad Aditya. Pria yang duduk di bangku SMK Dr. Soetomo ini mampu mendapatkan penghasilan hingga puluhan juta per bulannya.

Anda mungkin tidak percaya. Kalau masih ragu, coba Anda tonton channel The Dream Craft milik Aditya. Dalam beberapa sumber yang saya baca, anak muda yang masih berumur 17 tahun ini sudah menghasilkan gaji puluhan juta per bulan. Modalnya hanya konten game, lho!

Anda pasti tergiur menjadi seorang youtuber, bukan? Lalu, bagaimana seorang youtuber bisa mendapatkan gaji yang besar setiap bulannya? Dalam setiap kanal youtube, terdapat fitur subscribe. Terjemahan bahasa Indonesia kurang lebih bermakna berlangganan. Sementara orang yang menekan fitur subscribe disebut subscriber yakni pengguna youtube yang tertarik dengan kanal youtube tersebut.

Subscriber sangat menentukan perkembangan kanal youtube seseorang. Jika mencapai minimal 1000 subscriber, maka channel tersebut sudah masuk ke tahap monetisasi. Asalkan sudah memiliki jam tayang minimal 4 ribuan. Jika jumlah subscriber dan jam tayang makin berkembang (bertambah), makin peluang penambahan penghasilan semakin terbuka lebar.

Jadi, penghasilan antara youtuber satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Tergantung banyaknya jumlah subscriber dan jam tayang suatu channel. Semakin banyak jumlah subscriber dan jam tayangnya, maka semakin besar jumlah pendapatan setiap bulannya.

Akan tetapi, perjuangan untuk mendapatkan subscriber dan jam tayang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, keuletan dan konsistensi secara berkelanjutan untuk mencapai tahap monetisasi. Tahap ini memerlukan proses panjang. Bisa mencapai tahunan. Di sinilah ujian tahap awal seorang youtuber agar dapat mendapatkan penghasilan setiap bulannya.

Banyak youtuber gagal pada tahap ini. Awalnya, mereka rajin mengunggah konten. Namun, beberapa bulan kemudian mereka mulai semakin malas. Akibatnya, kanal youtubenya tidak berkembang. Pupuslah harapan untuk mendapatkan penghasilan.

Jadi, tidak ada pekerjaan yang gampang. Di dalamnya selalu ada perjuangan. Seringkali, masyarakat hanya melihat kesuksesan seorang youtuber, tetapi tidak pernah memahami perjuangan panjang kesuksesan itu. Mereka hanya melihat penghasilannya, tetapi tidak pernah berpikir proses untuk mendapatkan penghasilan itu.  

Kesuksesan seorang youtuber sesungguhnya membuka mata kita bahwa keberhasilan karier pekerjaan selalu membutuhkan “kerja Keras”. Dari dulu hingga zaman digital sekarang, faktor ini tidak berubah. Tidak ada usaha menghianati hasil. Usaha dan hasil akan bergandengan. Hanya saja, bentuk usaha itu berbeda dari zaman satu dengan zaman lainnya.

Usaha seorang youtuber terletak pada menciptakan konten yang kreatif dan diminati oleh masyarakat. Sekali lagi, kuncinya adalah jiwa kreativitas. Sebetulnya, jiwa kreativitas ini dimiliki oleh setiap orang, tetapi sering kurang diasah. Bukankah setiap individu adalah pribadi yang unik, memiliki kelebihan tersendiri.

Untuk mengenalinya bisa dilihat dari hobi, kesenangan, gaya hidup dan lain sebagainya. Sekecil apa pun kreativitas kita adalah modal untuk menjadi seorang youtuber. Kreativitas ini tidak harus menunggu pendidikan yang tinggi dan kematangan usia. Yang sangat dibutuhkan ialah usaha untuk mengeksplor kreativitas kita lewat kanal youtube.

Karena itu, sudah waktunya orang tua mendidik anak menjadi pribadi yang kreatif. Jangan berpikir bahwa hanya anak pintar secara akademik saja yang cerah masa depannya. Tidak. Semua anak memiliki peluang sukses yang sama, asalkan kita mampu membangkitkan kreativitas si anak sesuai bakat dan minatnya.

Dunia sekolah harus menyadari hal tersebut. Jangan sampai membuat kasta siswa pintar dan siswa bodoh hanya berdasarkan ukuran akademik saja. Namun, sekolah harus lebih adil dalam mengembangkan bakat siswa baik akademik maupun non-akademik dikaitkan dengan dunia digitalisasi. Sekolah selayaknya memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan minat dan kemampuan bakatnya menuju siswa yang memiliki mental kreatif dan bermental IT—bukan menjadi orang yang teoritis penuh hapalan.

Di tangan generasi yang kreatif, terampil dan bermental IT, usaha merebut peluang kesusksesan hidup pada era digitalisasi (5.0) sangat terbuka bagi generasi Z Indonesia.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kakawin Arjuna Wiwaha Wirama Manda Malon

Drama Tari Gambuh, Kesenian Bali Kuno nan Klasik

Wayang Wong Tejakula, Seni Klasik di Punggung Bali.